SKuP agama islam satria akbar mahardika

Halo teman teman nama saya satria akbar mahardika bisa dipanggil akbar, saya kuliah di universitas raharja, nim saya 1921428508, jurusan teknik informatika konsentrasi multimedia audio visual and broadcasting(mavib).

Saya lulusan SMAN 3 KAB.TANGERANG tahun 2018, saya lahir di jakarta, pada 15 september 2000. Mungkin ini saja cerita singkat tentang diri saya, makasihh teman temann..

 

NOPERTEMUANTUGASSCOREGRADE
1PERTEMUAN#1TUGAS#195A+
2PERTEMUAN#2TUGAS#2
3PERTEMUAN#3TUGAS#3
4PERTEMUAN#4TUGAS#4
5PERTEMUAN#5
6PERTEMUAN#6TUGAS#6
7PERTEMUAN#7
8PERTEMUAN#8
9PERTEMUAN#9
10PERTEMUAN#10
11PERTEMUAN#11
12PERTEMUAN#12
13PERTEMUAN#13
14PERTEMUAN#14

 

Assignment Pertemuan 6 – UL111i (Agama Islam) – Muhammad Khaeirul Mu’min 1933427113

1. Pertanyaan:

  1. Apakah arti ilmu bahasa dan istilah?
  2. Sebutkan syarat-syarat ilmu!
  3. Bagaiamana Kedudukan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam?
  4. Jelaskan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dalam Sejarah Islam pada masa Bani Abbasiah dan Bani Umayah
  5. Bagaimana Peran Islam Dalam Membangun IPTEK?
  6. Bagaimana agar Islam bermanfaat bagi manusia dan lingkungan juga bermanfaat bagi akhirat nanti? jelaskan!

2. Status: Mengerjakan 100%

Keterangan: Telah di kerjakan sesuai intruksi

Bukti:

  1. Ilmu menurut bahasa Arab asli ‘ilm, masdar dari’ alim, ya’lamu yang berarti tahu atau mengerti.
    Ilmu menurut istilah pengetahuan yang rumit atau ilmiah
  2. Ketentuan, Ilmu Objektif, Metodis, Sistematis, Universal
  3. – Kewajiban Menuntut Ilmu
    Manusia menciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan menciptakan Islam yang lain. kesempurnaan manusia dibandingkan dengan penciptaan lain ini dilengkapi dengan akal sehat dalam penciptaanya. Akal inilah yang dapat membedakan manusia dari penciptaan lainnya
    – Perintah Berfikir menggunakan akal
    Penciptaan manusia sengaja dilebihkan dari penemuan melawan penciptaanlain.
  4. – Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada masa Bani Abbasiah
    Perkembangan ilmu dalam daulah Abbasiah ini dirintis oelh khalifah yang ke 5, yaitu Abu Ja’far Harun Al-Rasyid. Dia meneruskan kebijakan yang dilakukan oleh khalifah khalifah sebelumnya. Hanya saja, dia tidak memfokuskan pada daerah berkuasa, dipercayakan pada perkembangan budaya Islam. apa yang diinginkan oleh Harun al-Rasyid diwujudkan dalam bentuk pembangunan sarana pembangunan sosial yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, didukung; rumah sakit dan lembaga pendidikan. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, budaya, serta kesusastraan terwujud dengan baik pada masa ini. Maka tak heran kompilasi di masa depan ini islam menempatkan dirinya menjadi terkuat dan tak tertandingi
    – Perkebangan Ilmu Pengetahuan pada masa Bani Umayyah
    Bani Umayyah pertama kali didirikan oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan memalui politik Arbitrase. pada masa keemasan daulah Umayyah kompilasi dipimpin oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. hanya saja perkembangan ilmu pengetahuan atau ilmu masih belum tampak pada periode periode ini sampai akhirnya Daulah Umayyah hancur setelah direbut oleh Bani Abbasiah. Ketika semua membunuh bani Umayyah dibunuh, dan satu yang berhasil lari ke Spanyol yaituh Abdurrahman.
    bermula dari inilah, perkembangan Islam di Andalusia cukup maju. Perhatian pemerintah pada ilmu pengetahuan cukup terasa. Abdul Rahman adalah seorang pemimpin yang terpelajar berwibawa dan sangat tertarik pada bidang kesastraan. Karena begitu cintanya pada bidang itu ia mendirikan satu tempat khusus di dalam istananya yang diberi nama “Darul Madaniyat” untuk kegiatan kesusastraan unutuk perempuan perguruan tinggi Andalus.
  5. Peran Islam dalam membangun IPTEK
    Pertama, Menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma yang mewakili umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang
    Ke-2, menjadikan Syariat Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar untuk memanfaatkan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang harus digunakan umat Islam, bukan standar tunjangan (pragmatisme / utilitarianisme) seperti yang ada sekarang.
  6. Peran Islam dalam perkembangan iptek adalah syariat Islam yang harus dijadikan standar pemanfaatan IPTEK. Ketentuan halal-haram (hukum syariat Islam) wajib dibuat tolak ukur dalam penggunaan IPTEK, juga bentuknya. IPTEK yang dapat dimanfaatkan adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sementara IPTEK yang tidak dapat dimanfaatkan adalah yang telah diharamkan oleh syariah Islam

PERTEMUAN 6 AGAMA : MUHAMAD ROYANI : 1921424672

Pertanyaan :

  1. Apakah arti ilmu bahasa dan istilah?
  2.  Sebutkan syarat-syarat ilmu!
  3. Bagaiamana Kedudukan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam?
  4. Jelaskan Pengembangan Ilmu  Pengetahuan Dalam Sejarah Islam pada masa Bani Abbasiah dan Bani Umayah
  5. Bagaimana Peran Islam Dalam Membangun IPTEK ?
  6. Bagaimana Islam mengatur pemanfaatan IPTEK agar bermanfaat  untuk manusia dan lingkungan serta bernilai pahala untuk di akhirat nanti? jelaskan!

Status : Tercapai 100%

Keterangan : Saya telah mengerjakan dengan benar

Bukti :

1. Menurut bahasa, arti kata ilmu berasal dari bahasa Arab (ilm), bahasa Latin (science) yang berarti tahu atau mengetahui atau memahami. Sedangkan menurut istilah, ilmu adalah pengetahuan yang sistematis atau ilmiah. Perbedaan ilmu dan pengetahuan yaitu : Secara umum, Pengertian Ilmu merupakan kumpulan proses kegiatan terhadap suatu kondisi dengan menggunakan berbagai cara, alat, prosedur dan metode ilmiah lainnya guna menghasilkan pengetahuan ilmiah yang analisis, objektif, empiris, sistematis dan verifikatif. Sedangkan pengetahuan (knowledge ) merupakan kumpulan fakta yang meliputi bahan dasar dari suatu ilmu, sehingga pengetahuan belum bisa disebut sebagai ilmu, tetapi ilmu pasti merupakan pengetahuan.

2. Syarat-syarat ilmu

Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu[4]. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.
1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.
2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.
3.Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.
4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180º. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

3. Kedudukan Ilmu Menurut Islam

Ilmu menempati kedudukan yang sangat penting dalam ajaran Islam, hal ini terlihat dari banyaknya ayat Al-Qur’an yang memandang orang berilmu dalam posisi yang tinggi dan mulia disamping hadist-hadist nabi yang banyak memberi dorongan bagi umatnya untuk terus menuntut ilmu.

Didalam Al Qur’an, kata ilmu dan kata-kata jadiannya di gunakan lebih dari 780 kali, ini bermakna bahwa ajaran Islam sebagaimana tercermin dari Al-Qur’an sangat kental dengan nuansa nuansa yang berkaitan dengan ilmu, sehingga dapat menjadi ciri penting dari agama Islam sebagaimana dikemukakan oleh Dr. Mahadi Ghulsyani sebagai berikut :

“Salah satu ciri yang membedakan Islam dengan yang lainnya adalah penekanannya terhadap masalah ilmu (sains), Al-Qur’an dan As-Sunnah mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan Ilmu dan kearifan, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat tinggi.

Allah Subhannawata’ala berfirman dalam Al-Qur’an yang artinya : “Allah meninggikan beberapa derajat (tingkatan) orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu (diberi ilmu pengetahuan). dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Ayat di atas dengan jelas menunjukkan bahwa orang yang beriman dan berilmu akan menjadi memperoleh kedudukan yang tinggi. Keimanan yang dimiliki seseorang akan menjadi pendorong untuk menuntut ilmu, dan ilmu yang dimiliki seseorang akan membuat dia sadar betapa kecilnya manusia dihadapan Allah, sehingga akan tumbuh rasa kepada Allah bila melakukan hal-hal yang dilarangnya, hal ini sejalan dengan firman Allah : “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya hanyalah ulama (orang berilmu)”.

Disamping ayat-ayat Al-Qur’an yang memposisikan ilmu dan orang berilmu sangat istimewa, Al-Qur’an juga mendorong umat Islam untuk berdo’a agar ditambahi ilmu. Dalam hubungan inilah konsep membaca, sebagai salah satu wahana menambah ilmu menjadi sangat penting, dan Islam telah sejak awal menekankan pentingnya membaca, sebagaimana terlihat dari firman Allah yang pertama diturunkan yaitu surat Al-Alaq yang artinya : “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan kamu dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui”.

Ayat-ayat tersebut, jelas merupakan sumber motivasi bagi umat Islam untuk tidak pernah berhenti menuntut ilmu, untuk terus membaca, sehingga posisi yang tinggi dihadapan Allah akan tetap terjaga, yang berarti juga rasa takut kepada Allah akan menjiwai seluruh aktivitas kehidupan manusia untuk melakukan amal shaleh, dengan demikian nampak bahwa keimanan yang dibarengi dengan ilmu akan membuahkan amal ,sehingga Nurcholis Madjid menyebutkan bahwa keimanan dan amal perbuatan membentuk segi tiga pola hidup yang kukuh ini seolah menengahi antara iman dan amal.

4. Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada masa Bani Abbasiah – Perkebangan Ilmu Pengetahuan pada masa Bani Umayyah
Perkembangan ilmu dalam daulah Abbasiah ini dirintis oelh khalifah yang ke 5, yaitu Abu Ja’far Harun Al-Rasyid. Dia mengeluarkan kebijakan yang dilakukan oleh khalifah khalifah sebelumnya. Hanya saja, dia tidak fokus pada daerah berkuasa, dipercayakan pada perkembangan budaya Islam. apa yang diinginkan oleh Harun al-Rasyid diwujudkan dalam bentuk pembangunan sarana pembangunan sosial yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, didukung; rumah sakit dan lembaga pendidikan. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, budaya, serta kesusastraan terwujud dengan baik pada masa ini. Maka tak heran kompilasi di masa depan mengundang Islam terkuat dan tak tertandingi
Bani Umayyah pertama kali didirikan oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan memalui politik Arbitrase. pada masa keemasan daulah Umayyah kompilasi dipimpin oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. hanya saja perkembangan ilmu pengetahuan atau ilmu masih belum tampak pada periode periode ini sampai akhirnya Daulah Umayyah hancur setelah direbut oleh Bani Abbasiah. Ketika semua membunuh bani Umayyah dibunuh, dan satu yang berhasil lari ke Spanyol yaituh Abdurrahman.
bermula dari inilah, perkembangan Islam di Andalusia cukup maju. Perhatian pemerintah pada ilmu pengetahuan cukup terasa. Abdul Rahman adalah seorang pemimpin yang terpelajar berwibawa dan sangat tertarik pada bidang kesastraan.Karena begitu cintanya pada bidang itu ia mendirikan satu tempat khusus di istananya yang bernama “Darul Madaniyat” untuk kegiatan kesusastraan unutuk perempuan perguruan tinggi Andalus.

5. Peran Islam dalam membangun IPTEK
Pertama, Menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma yang mewakili umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang
Ke-2, menjadikan Syariat Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar untuk memanfaatkan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang harus digunakan umat Islam, bukan standar tunjangan (pragmatisme / utilitarianisme) seperti yang ada sekarang.

6. Peran Islam dalam perkembangan iptek adalah syariat Islam yang harus dijadikan standar pemanfaatan IPTEK. Ketentuan halal-haram (hukum syariat Islam) wajib dibuat tolak ukur dalam penggunaan IPTEK, juga bentuknya. IPTEK yang dapat dimanfaatkan adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sementara IPTEK yang tidak dapat dimanfaatkan adalah yang telah diharamkan oleh syariah Islam

Assignment ke 6 UL111l : Allif Pujihanarko 1921428111

1. Pertanyaan:

  1. Apakah arti ilmu bahasa dan istilah?
  2. Sebutkan syarat-syarat ilmu!
  3. Bagaiamana Kedudukan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam?
  4. Jelaskan Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dalam Sejarah Islam pada masa Bani Abbasiah dan Bani Umayah
  5. Bagaimana Peran Islam Dalam Membangun IPTEK?
  6. Bagaimana agar Islam bermanfaat bagi manusia dan lingkungan juga bermanfaat bagi akhirat nanti? jelaskan!

Keterangan telah di kerjakan sesuai dengan intruksi

Status 100% terbukti

Bukti:

  1. Ilmu menurut bahasa Arab asli ‘ilm, masdar dari’ alim, ya’lamu yang berarti tahu atau mengerti. 
    Ilmu menurut istilah pengetahuan yang rumit atau ilmiah
  2. Ketentuan, Ilmu Objektif, Metodis, Sistematis, Universal
  3. – Kewajiban Menuntut Ilmu
    Manusia menciptakan lebih sempurna dibandingkan dengan menciptakan Islam yang lain. manusia sempurna dengan sempurna lain dilengkapi akal sehat dalam penciptaanya. Akal yang dapat membedakan manusia dari
    diskusi lain – Perintah Berfikir menggunakan akal
    Penciptaan manusia sengaja dilebihkan dari penemuan melawan yang diajukanlain.
  4. – Perkembangan Ilmu Pengetahuan pada masa Bani Abbasiah – Perkebangan Ilmu Pengetahuan pada masa Bani Umayyah
    Perkembangan ilmu dalam daulah Abbasiah ini dirintis oelh khalifah yang ke 5, yaitu Abu Ja’far Harun Al-Rasyid. Dia mengeluarkan kebijakan yang dilakukan oleh khalifah khalifah sebelumnya. Hanya saja, dia tidak fokus pada daerah berkuasa, dipercayakan pada perkembangan budaya Islam. apa yang diinginkan oleh Harun al-Rasyid diwujudkan dalam bentuk pembangunan sarana pembangunan sosial yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, didukung; rumah sakit dan lembaga pendidikan. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, budaya, serta kesusastraan terwujud dengan baik pada masa ini. Maka tak heran kompilasi di masa depan mengundang Islam terkuat dan tak tertandingi

    Bani Umayyah pertama kali didirikan oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan memalui politik Arbitrase. pada masa keemasan daulah Umayyah kompilasi dipimpin oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. hanya saja perkembangan ilmu pengetahuan atau ilmu masih belum tampak pada periode periode ini sampai akhirnya Daulah Umayyah hancur setelah direbut oleh Bani Abbasiah. Ketika semua membunuh bani Umayyah dibunuh, dan satu yang berhasil lari ke Spanyol yaituh Abdurrahman.
    bermula dari inilah, perkembangan Islam di Andalusia cukup maju. Perhatian pemerintah pada ilmu pengetahuan cukup terasa. Abdul Rahman adalah seorang pemimpin yang terpelajar berwibawa dan sangat tertarik pada bidang kesastraan.Karena begitu cintanya pada bidang itu ia mendirikan satu tempat khusus di istananya yang bernama “Darul Madaniyat” untuk kegiatan kesusastraan unutuk perempuan perguruan tinggi Andalus.

  5. Peran Islam dalam membangun IPTEK
    Pertama, Menjadikan Aqidah Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan. Paradigma yang mewakili umat Islam, bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang
    Ke-2, menjadikan Syariat Islam (yang lahir dari Aqidah Islam) sebagai standar untuk memanfaatkan iptek dalam kehidupan sehari-hari. Standar atau kriteria inilah yang harus digunakan umat Islam, bukan standar tunjangan (pragmatisme / utilitarianisme) seperti yang ada sekarang.
  6. Peran Islam dalam perkembangan iptek adalah syariat Islam yang harus dijadikan standar pemanfaatan IPTEK. Ketentuan halal-haram (hukum syariat Islam) wajib dibuat tolak ukur dalam penggunaan IPTEK, juga bentuknya. IPTEK yang dapat dimanfaatkan adalah yang telah dihalalkan oleh syariah Islam. Sementara IPTEK yang tidak dapat dimanfaatkan adalah yang telah diharamkan oleh syariah Islam

Pertemuan 4 Agama UL111I : Muhamad Royani : 1921424672

Pertanyaan :

  1. jelaskan makna Thaharah, Shaum, Shalat,Haji dan Umrah!
  2. Tunjukan dalil-dalil Al-Qur’an maupun hadits tentang Thaharah, Shaum, Shalat,Haji dan Umrah!
  3. Sebutkan hukum macam-macam air yang boleh digunakan untuk bersuci dan tidak boleh di gunakan untuk bersuci!
  4. Sebutkan 7 jenis air yang dapat di gunakan untuk bersuci!
  5. Sebutkan macam-macam najis dan bagaimana cara membersihkannya!
  6. Jelaskan arti shalat dan dalilnya!
  7. Jelaskan tentang syarat dan rukun shalat!
  8. Sebutkan macam-macam (nama-nama) shalat sunah!
  9. Apa Arti Puasa (Shaum) dan sebutksan dalil  tentang puasa?
  10. Sebutkan macam-macam puasa wajib dan puasa sunah!

 

  1. Status

Tercapai 100%

  1. Keterangan

Saya sudah mengerjakan tugas ini dengan baik dan benar

  1. Bukti

 

 

1.

Thaharah

Secara bahasa thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun yang tak berwujud. Kemudian secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadas, najis, dan kotoran (dari tubuh, yang menyebabkan tidak sahnya ibadah lainnya) menggunakan air atau tanah yang bersih.

Shaum

Shaum adalah menahan diri secara khusus dalam jangka waktu yang sudah ditentukan dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Dalam syariat Islam, puasa artinya menahan diri dari makan, minum.

Shalat

Sholat berasal dari bahasa arab yang artinnya ‘’do’a’’. Sedangkan menurut isltilah sholat adalah ibadah yang dimulai dengan bacaan takbiratul ikhrom dan diakhiri dengan mengucap salam dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Haji

Haji secara istilah (terminologi) adalah pergi beribadah ke tanah suci (Mekah), melakukan tawaf, sa’i, dan wukuf di Padang Arafah serta melaksanakan semua ketentuan-ketentuan haji di bulan Zulhijah.

Umrah

Umrah menurut bahasa (etimologi) yaitu diambil dari kata “i’tamara” yang artinya berkunjung. Di dalam syariat, umrah artinya adalah berkunjung ke Baitullah (Masjidil Haram) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan memenuhi syarat tertentu yang waktunya tidak ditentukan seperti halnya haji.

 

 

2.
Dalil Dalil Thaharah :

•Dalil-dalil yang menganjurkan supaya kita menjaga kebersihan (bersuci)

Allah Swt. Berfirman :

يٰۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ اۤمَنُوا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوْهَكُمْ وَ اَيْدِيْكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَ امْسَحُوا بِرُئُوْسِكُمْ وَ اَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki..” (Q.S. al-Maidah: 6)
•Ayat Al Quran ini menunjukkan bahwa perintah thaharah ada dua. Yakni pakaian dan perbuatan dosa (thaharah batin)

Allah SWT berfirman:

وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ  ۖ  قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيضِ  ۖ  وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ  ۖ  فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ  ۚ  إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, Itu adalah sesuatu yang kotor. Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 222)

Dalil Shaum :

•Dalil Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

Dalil Shalat :

•Q.S. Ar-Rum/30: 17-18

فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ

Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari, (17)

وَلَهُ الْحَمْدُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَعَشِيًّا وَّحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ

dan segala puji bagi-Nya baik di langit, di bumi, pada malam hari dan pada waktu zuhur (tengah hari) (18)

Dalil Haji :

•kewajiban haji oleh para ulama adalah surah Ali Imran ayat 97 berikut;

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

Menurut Imam Ibnu Kastir, ayat di atas merupakan dalil yang dijadikan dasar kewajiban haji oleh kebanyakan ulama. Sebagian ulama lain menjadikan surah AlBaqarah ayat 196 sebagai dasar kewajiban haji.

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kalian karena Allah.”

Dalil Umroh :

•Para ulama berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al Baqarah: 196).

 

3.
•Air yang suci dan mensucikan ialah :

  • Air salju,
  • air telaga,
  • air embun,
  • air sumur,
  • air hujan,
  • air laut,
  • air sungai

•Air Suci Tetapi Tidak Dapat Mensucikan ialah :

Air musta’mal (telah digunakan untuk bersuci) menghilangkan hadats dan menghilangkan naijs walaupun tidak berubah rupanya , rasanya dan baunya. Perbedaan pendapat di kalangan ulama terjadi saat menentukan apakah air musta’mal itu suci dan mensucikan ataukah suci tetapi tidak mensucikan. Dan perbedaan ini terjadi dikarenakan sudut pandang yang berbeda mengenai dalil yang ada, dan dalil tersebut juga sama-sama shahih.

Air Mutlak Yang Berubah Sifatnya Sedangkan macam kedua dari air yang dihukumi suci tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci (thaharah) adalah air mutlak yang berubah salah satu sifatnya atau semuanya (bau, warna dan rasanya). misalnya air itu berubah dikarenakan bercampur dengan sesuatu yang suci, seperti air teh, kopi, sirup dan lain-lain. Maka hukumnya suci dapat dikonsumsi, tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci.

Air Mutanajis Yaitu air yang kena najis (kemasukan najis), sedang jumlahnya kurang dari dua kullah  , maka air yang semacam ini tidak suci dan tidak dapat mensucikan . Jika lebih dari dua kullah dan tidak berubah sifatnya , maka sah untuk bersuci .

 

 

 

4.

  • Air salju,
  • air telaga,
  • air embun,
  • air sumur,
  • air hujan,
  • air laut,
  • air sungai

 

 

5.

  • Najis Mukhoffafah

Najis Mukhoffafah merupakan najis ringan. Cara mensucikannya yakni dengan memercikkan air pada bagian yang terkena najis. Seperti contoh pada air kencing bayi laki-laki yang masih minum asi atau belum makan.

  • Najis Mutawasithah

Najis Mutawasithah merupakan najis sedang. Najis ini berasal dari kubul dan dubur, baik manusia maupun hewan kecuali bangkai, tulang, air mani, bangkai, belalang dan ikan. Cara mensucikannya cukup basuh dengan air bersih pada tempat yang terkena najis.

  • Najis Mugholladhah

Najis Mugholladhah merupakan najis berat. cara mensucikannya adalah dengan membasuh, menggunakan air suci 7 kali dan satu diantaranya dengan tanah dicampur dengan air. Contohnya yakni pada bekas jilatan anjing dan babi.

 

 

6.

Sholat berasal dari bahasa arab yang artinnya ‘’do’a’’. Sedangkan menurut isltilah sholat adalah ibadah yang dimulai dengan bacaan takbiratul ikhrom dan diakhiri dengan mengucap salam dengan syarat dan ketentuan tertentu. Segala perkataan dan perbuatan yang termasuk rukun sholat mempunyai arti dan makna tertentu yang bertujuan untuk mendekatkan hamba dengan Penciptannya.

 

Al-quran surat (20:14)

20:14 – إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya :

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku. ( Surah Taha [20:14] )

 

juga Al Quran Surat (29:45)

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ – 29:45

Artinya :

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Surah Al-‘Ankabut [29:45] )

 

 

7.

Syarat Sholat

Syarat sholat diantaranya:

  • Orang tersebut harus beragama islam.
  • Berakal sehat
  • Dewasa atau sudah baligh
  • Telah mengetahui tentang hukum sholat serta tata cara sholat dengan baik.
  • Bersih ataupun suci dari hadats dan najis.
  • Sadar.

Dibawah ini beberapa syarat syah sholat untuk dipahami setiap muslim yang menjalankan kewajiban sholat:

  • Sudah masuk waktu sholat.
  • Harus menghadap arah kiblat
  • Suci dari hadas baik hadas kecil maupun besar
  • Harus menutup aurat
  • Mengetahui tentang cara melaksanakan ibadah sholat tersebut.

Rukun salat

Rukun sholat harus di jalankan saat sholat dan harus tertib.

  1. Niat
  2. Berdiri bagi yang mampu.
  3. Selanjutnya membaca takbiratul ikram.
  4. Setiap raka’at membaca surat al fatihah.
  5. Ruku’ secara tuma’ninah.
  6. I’tidal secara tuma’ninah.
  7. Sujud secara tuma’ninah.
  8. Duduk atara dua sujud secara tumaninah
  9. Kemudian duduk tasyahud akhir
  10. Dan membaca sholawat Nabi.
  11. Membaca salam.
  12. Tertib.

 

 

8.

1. Salat wudu

2. Salat Tahiyatul Masjid

3. Sholat Dhuha

4. Salat Rawatib

5. Salat Tahajud

6. Salat Istikharah

7. Salat Hajat

8. Salat Mutlaq

9. Salat Taubat

10. Salat tasbih

11. Salat Tarawih

12. Salat Witir

13. Salat Hari Raya

14. Salat Khusuf

15. Salat Istiqa

 

 

9

puasa adalah menahan diri secara khusus dalam jangka waktu yang sudah ditentukan dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Dalam syariat Islam, puasa artinya menahan diri dari makan, minum.

Dalil Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

 

 

10.

Puasa Wajib
– Puasa Ramadhan
– Puasa Nazar

Puasa Sunnah
– Puasa Senin-Kamis
– Puasa Daud
– Puasa Arafah
– Puasa Asyura
– Puasa SyawalPertanyaan :

  1. jelaskan makna Thaharah, Shaum, Shalat,Haji dan Umrah!
  2. Tunjukan dalil-dalil Al-Qur’an maupun hadits tentang Thaharah, Shaum, Shalat,Haji dan Umrah!
  3. Sebutkan hukum macam-macam air yang boleh digunakan untuk bersuci dan tidak boleh di gunakan untuk bersuci!
  4. Sebutkan 7 jenis air yang dapat di gunakan untuk bersuci!
  5. Sebutkan macam-macam najis dan bagaimana cara membersihkannya!
  6. Jelaskan arti shalat dan dalilnya!
  7. Jelaskan tentang syarat dan rukun shalat!
  8. Sebutkan macam-macam (nama-nama) shalat sunah!
  9. Apa Arti Puasa (Shaum) dan sebutksan dalil  tentang puasa?
  10. Sebutkan macam-macam puasa wajib dan puasa sunah!
  1. Status

Tercapai 100%

  1. Keterangan

Saya sudah mengerjakan tugas ini dengan baik dan benar

  1. Bukti

1.

Thaharah

Secara bahasa thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun yang tak berwujud. Kemudian secara istilah, thaharah artinya menghilangkan hadas, najis, dan kotoran (dari tubuh, yang menyebabkan tidak sahnya ibadah lainnya) menggunakan air atau tanah yang bersih.

Shaum

Shaum adalah menahan diri secara khusus dalam jangka waktu yang sudah ditentukan dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Dalam syariat Islam, puasa artinya menahan diri dari makan, minum.

Shalat

Sholat berasal dari bahasa arab yang artinnya ‘’do’a’’. Sedangkan menurut isltilah sholat adalah ibadah yang dimulai dengan bacaan takbiratul ikhrom dan diakhiri dengan mengucap salam dengan syarat dan ketentuan tertentu.

Haji

Haji secara istilah (terminologi) adalah pergi beribadah ke tanah suci (Mekah), melakukan tawaf, sa’i, dan wukuf di Padang Arafah serta melaksanakan semua ketentuan-ketentuan haji di bulan Zulhijah.

Umrah

Umrah menurut bahasa (etimologi) yaitu diambil dari kata “i’tamara” yang artinya berkunjung. Di dalam syariat, umrah artinya adalah berkunjung ke Baitullah (Masjidil Haram) dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan memenuhi syarat tertentu yang waktunya tidak ditentukan seperti halnya haji.

2.
Dalil Dalil Thaharah :

•Dalil-dalil yang menganjurkan supaya kita menjaga kebersihan (bersuci)

Allah Swt. Berfirman :

يٰۤأَيُّهَا الَّذِيْنَ اۤمَنُوا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوْهَكُمْ وَ اَيْدِيْكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَ امْسَحُوا بِرُئُوْسِكُمْ وَ اَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki..” (Q.S. al-Maidah: 6)
•Ayat Al Quran ini menunjukkan bahwa perintah thaharah ada dua. Yakni pakaian dan perbuatan dosa (thaharah batin)

Allah SWT berfirman:

وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ  ۖ  قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَآءَ فِى الْمَحِيضِ  ۖ  وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ  ۖ  فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ  ۚ  إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوّٰبِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haid. Katakanlah, Itu adalah sesuatu yang kotor. Karena itu jauhilah istri pada waktu haid; dan jangan kamu dekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 222)

Dalil Shaum :

•Dalil Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

Dalil Shalat :

•Q.S. Ar-Rum/30: 17-18

فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ حِيْنَ تُمْسُوْنَ وَحِيْنَ تُصْبِحُوْنَ

Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pada pagi hari, (17)

وَلَهُ الْحَمْدُ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَعَشِيًّا وَّحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ

dan segala puji bagi-Nya baik di langit, di bumi, pada malam hari dan pada waktu zuhur (tengah hari) (18)

Dalil Haji :

•kewajiban haji oleh para ulama adalah surah Ali Imran ayat 97 berikut;

وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلْبَيْتِ مَنِ ٱسْتَطَا عَ إِلَيْهِ سَبِيلًۭا ۚ وَمَن كَفَرَ فَإِ نَّ ٱللَّهَ غَنِىٌّ عَنِ ٱلْعَٰلَمِينَ

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam”.

Menurut Imam Ibnu Kastir, ayat di atas merupakan dalil yang dijadikan dasar kewajiban haji oleh kebanyakan ulama. Sebagian ulama lain menjadikan surah AlBaqarah ayat 196 sebagai dasar kewajiban haji.

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah kalian karena Allah.”

Dalil Umroh :

•Para ulama berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

وَأَتِمُّواْ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّهِ

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah.” (QS. Al Baqarah: 196).

3.
•Air yang suci dan mensucikan ialah :

  • Air salju,
  • air telaga,
  • air embun,
  • air sumur,
  • air hujan,
  • air laut,
  • air sungai

•Air Suci Tetapi Tidak Dapat Mensucikan ialah :

Air musta’mal (telah digunakan untuk bersuci) menghilangkan hadats dan menghilangkan naijs walaupun tidak berubah rupanya , rasanya dan baunya. Perbedaan pendapat di kalangan ulama terjadi saat menentukan apakah air musta’mal itu suci dan mensucikan ataukah suci tetapi tidak mensucikan. Dan perbedaan ini terjadi dikarenakan sudut pandang yang berbeda mengenai dalil yang ada, dan dalil tersebut juga sama-sama shahih.

Air Mutlak Yang Berubah Sifatnya Sedangkan macam kedua dari air yang dihukumi suci tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci (thaharah) adalah air mutlak yang berubah salah satu sifatnya atau semuanya (bau, warna dan rasanya). misalnya air itu berubah dikarenakan bercampur dengan sesuatu yang suci, seperti air teh, kopi, sirup dan lain-lain. Maka hukumnya suci dapat dikonsumsi, tetapi tidak dapat digunakan untuk bersuci.

Air Mutanajis Yaitu air yang kena najis (kemasukan najis), sedang jumlahnya kurang dari dua kullah  , maka air yang semacam ini tidak suci dan tidak dapat mensucikan . Jika lebih dari dua kullah dan tidak berubah sifatnya , maka sah untuk bersuci .

4.

  • Air salju,
  • air telaga,
  • air embun,
  • air sumur,
  • air hujan,
  • air laut,
  • air sungai

5.

  • Najis Mukhoffafah

Najis Mukhoffafah merupakan najis ringan. Cara mensucikannya yakni dengan memercikkan air pada bagian yang terkena najis. Seperti contoh pada air kencing bayi laki-laki yang masih minum asi atau belum makan.

  • Najis Mutawasithah

Najis Mutawasithah merupakan najis sedang. Najis ini berasal dari kubul dan dubur, baik manusia maupun hewan kecuali bangkai, tulang, air mani, bangkai, belalang dan ikan. Cara mensucikannya cukup basuh dengan air bersih pada tempat yang terkena najis.

  • Najis Mugholladhah

Najis Mugholladhah merupakan najis berat. cara mensucikannya adalah dengan membasuh, menggunakan air suci 7 kali dan satu diantaranya dengan tanah dicampur dengan air. Contohnya yakni pada bekas jilatan anjing dan babi.

6.

Sholat berasal dari bahasa arab yang artinnya ‘’do’a’’. Sedangkan menurut isltilah sholat adalah ibadah yang dimulai dengan bacaan takbiratul ikhrom dan diakhiri dengan mengucap salam dengan syarat dan ketentuan tertentu. Segala perkataan dan perbuatan yang termasuk rukun sholat mempunyai arti dan makna tertentu yang bertujuan untuk mendekatkan hamba dengan Penciptannya.

Al-quran surat (20:14)

20:14 – إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya :

Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku. ( Surah Taha [20:14] )

juga Al Quran Surat (29:45)

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ – 29:45

Artinya :

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. ( Surah Al-‘Ankabut [29:45] )

7.

Syarat Sholat

Syarat sholat diantaranya:

  • Orang tersebut harus beragama islam.
  • Berakal sehat
  • Dewasa atau sudah baligh
  • Telah mengetahui tentang hukum sholat serta tata cara sholat dengan baik.
  • Bersih ataupun suci dari hadats dan najis.
  • Sadar.

Dibawah ini beberapa syarat syah sholat untuk dipahami setiap muslim yang menjalankan kewajiban sholat:

  • Sudah masuk waktu sholat.
  • Harus menghadap arah kiblat
  • Suci dari hadas baik hadas kecil maupun besar
  • Harus menutup aurat
  • Mengetahui tentang cara melaksanakan ibadah sholat tersebut.

Rukun salat

Rukun sholat harus di jalankan saat sholat dan harus tertib.

  1. Niat
  2. Berdiri bagi yang mampu.
  3. Selanjutnya membaca takbiratul ikram.
  4. Setiap raka’at membaca surat al fatihah.
  5. Ruku’ secara tuma’ninah.
  6. I’tidal secara tuma’ninah.
  7. Sujud secara tuma’ninah.
  8. Duduk atara dua sujud secara tumaninah
  9. Kemudian duduk tasyahud akhir
  10. Dan membaca sholawat Nabi.
  11. Membaca salam.
  12. Tertib.

8.

1. Salat wudu

2. Salat Tahiyatul Masjid

3. Sholat Dhuha

4. Salat Rawatib

5. Salat Tahajud

6. Salat Istikharah

7. Salat Hajat

8. Salat Mutlaq

9. Salat Taubat

10. Salat tasbih

11. Salat Tarawih

12. Salat Witir

13. Salat Hari Raya

14. Salat Khusuf

15. Salat Istiqa

9

puasa adalah menahan diri secara khusus dalam jangka waktu yang sudah ditentukan dengan syarat dan ketentuan yang sudah ditetapkan. Dalam syariat Islam, puasa artinya menahan diri dari makan, minum.

Dalil Al-Qur’an

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Q.S. Al-Baqarah/2: 183)

10.

Puasa Wajib
– Puasa Ramadhan
– Puasa Nazar

Puasa Sunnah
– Puasa Senin-Kamis
– Puasa Daud
– Puasa Arafah
– Puasa Asyura
– Puasa Syawal

Pertemuan 3 Agama UL111I : Muhamad Royani : 1921424672

Pertanyaan :

  1. APA SAJA YANG TERMASUK SUMBER POKOK HUKUM ISLAM, SEBUTKAN DAN JELASKAN.
  2. SEBUTKAN 4 SUMBER HUKUM ISLAM YANG DISEPAKATI.
  3. SEBUTKAN  DAN JELASKKAN MINIMAL 3 HUKUM ISLAM YANG TIDAK DISEPAKATI.
  4. SEBUTKAN 6 MACAM HUKUM ISLAM, DAN JELASKAN SATU DEMI SATU.

Keterangan : saya mengerjakan dengan benar

Status : tercapai 100%

Bukti :

1.Sumber-sumber hukum Islam (bahasa Arab: الأدلة الشرعية الإسلامية, translit. al-adillah al-syar’iyyah al-islāmiyyah‎), atau dalil syar’i, adalah rujukan pengambilan keputusan untuk menghukumi suatu perbuatan (misal, wajib) dalam syariat Islam dengan cara yang dibenarkan.[1] Semua hukum perbuatan dalam Islam selalu merujuk kepada empat macam rujukan yang disepakati oleh mayoritas kaum muslimin (dari yang paling utama): Alquran, sunnah, ijmak, dan qiyas.[2] Penetapan empat sumber hukum ini tertera dalam firman Allah dalam Surah An-Nisa’ (lihat di bawah).[2]

Karena peraturan Islam yang tercantum dalam sumber utama tidak secara eksplisit menangani setiap kejadian yang mungkin terjadi, yurisprudensi harus mengacu pada sumber dan dokumen asli untuk menemukan tindakan yang benar.[3] Menurut mazhab Sunni, sumber sekunder hukum Islam adalah konsensus, sifat pastinya tidak mengandung konsensus sendiri; Alasan analogis; Alasan murni; Mencari kepentingan umum; Kebijaksanaan hukum; Keputusan generasi pertama umat Islam; Dan adat istiadat setempat.[4] Mazhab Hanafi sering bergantung pada deduksi analogis dan penalaran independen, dan Maliki dan Hanbali umumnya menggunakan Hadis. Mazhab Syafi’i menggunakan Sunnah lebih dari Hanafi dan analogi lebih dari dua lainnya.[3][5] Di antara Syi’ah, Mazhab Ja’fari Usuli menggunakan empat sumber, yaitu Alquran, Sunnah, konsensus dan intelek. Mereka menggunakan konsensus dalam kondisi khusus dan bergantung pada akal untuk menemukan prinsip umum berdasarkan Alquran dan Sunnah, dan menggunakan prinsip-prinsip yurisprudensi sebagai metodologi untuk menafsirkan Alquran dan Sunnah dalam situasi yang berbeda. Akhbari Ja’fari lebih mengandalkan tradisi dan menolak ijtihad.[3][6] Menurut Momen, terlepas dari perbedaan prinsip-prinsip yurisprudensi antara Syiah dan empat mazhab Sunni, ada sedikit perbedaan dalam penerapan praktis yurisprudensi terhadap Upacara ritual dan transaksi sosial.

2. Di dalam menentukan hukum fiqih, madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) bersumber kepada empat pokok; Al-Qur’an, Hadits/as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Secara singkat, paparannya sebagai berikut;

Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan sumber utama dan pertama dalam pengambilan hukum. Karena Al-Qur’an adalah perkataan Allah yang merupakan petunjuk kepada ummat manusia dan diwajibkan untuk berpegangan kepada Al-Qur’an. Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 2; Al-Maidah Ayat 44-45, 47 :

ذلِكَ اْلكِتَبَ لاَرَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِلْمُتَّقِيْنَ

<>
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”. (Al-Baqarah; 2)

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ اْلكفِرُوْنَ

“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah golongan orang-orang kafir”.

Tentu dalam hal ini yang bersangkutan dengan aqidah, lalu;

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ الظّلِمُوْنَ

“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang-orang yang dhalim”.

Dalam hal ini urusan yang berkenaan dengan hak-hak sesama manusia

وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللهُ فَأُوْلئِكَ هُمُ اْلفسِقُوْن َ

“Dan barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah maka mereka adalah golongan orang-orang fasik”.

Dalam hal ini yang berkenaan dengan ibadat dan larangan-larangan Allah.

Al-Hadits/Sunnah

Sumber kedua dalam menentukan hukum ialah sunnah Rasulullah ٍSAW. Karena Rasulullah yang berhak menjelaskan dan menafsirkan Al-Qur’an, maka As-Sunnah menduduki tempat kedua setelah Al-Qur’an. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat an-Nahl ayat 44 dan al-Hasyr ayat 7, sebagai berikut;

وَاَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الذِكْرَ لِتُبَيِنَ لِلنَّاسِ مَانُزِلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Dan kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan”. (An-Nahl : 44)

وَمَاءَاتَكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَانَهكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْاوَاتَّقُوْااللهَ, اِنَّ اللهَ شَدِيْدُاْلعِقَابِ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat keras sikapnya”. (Al-Hasyr: 7)

Kedua ayat tersebut di atas jelas bahwa Hadits atau Sunnah menduduki tempat kedua setelah Al-Qur’an dalam menentukan hukum.

Al-Ijma’

Yang disebut Ijma’ ialah kesepakatan para Ulama’ atas suatu hukum setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Karena pada masa hidupnya Nabi Muhammad SAW seluruh persoalan hukum kembali kepada Beliau. Setelah wafatnya Nabi maka hukum dikembalikan kepada para sahabatnya dan para Mujtahid.

Kemudian ijma’ ada 2 macam :
1. Ijma’ Bayani (الاجماع البياني ) ialah apabila semua Mujtahid mengeluarkan pendapatnya baik berbentuk perkataan maupun tulisan yang menunjukan kesepakatannya.
2. Ijma’ Sukuti (الاجماع السكوتي) ialah apabila sebagian Mujtahid mengeluarkan pendapatnya dan sebagian yang lain diam, sedang diamnya menunjukan setuju, bukan karena takut atau malu.

Dalam ijma’ sukuti ini Ulama’ masih berselisih faham untuk diikuti, karena setuju dengan sikap diam tidak dapat dipastikan. Adapun ijma’ bayani telah disepakati suatu hukum, wajib bagi ummat Islam untuk mengikuti dan menta’ati.

Karena para Ulama’ Mujtahid itu termasuk orang-orang yang lebih mengerti dalam maksud yang dikandung oleh Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan mereka itulah yang disebut Ulil Amri Minkum (اولىالامر منكم ) Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ ayat : 59

ياأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْاأَطِيْعُوْااللهَ وَأَطِيْعُوْاالرَّسُوْلَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْكُمْ

“Hai orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu”.

Dan para Sahabat pernah melaksanakan ijma’ apabila terjadi suatu masalah yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah S.A.W. Pada zaman sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar r.a jika mereka sudah sepakat maka wajib diikuti oleh seluruh ummat Islam. Inilah beberapa Hadits yang memperkuat Ijma’ sebagai sumber hokum, seperti disebut dalam Sunan Termidzi Juz IV hal 466.

اِنَّ اللهَ لاَ يَجْمَعُ اُمَّتىِ عَلىَ ضَلاَ لَةٍ, وَيَدُاللهِ مَعَ اْلَجَماعَةِ

“Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku atas kesesatan dan perlindungan Allah beserta orang banyak.

Selanjutnya, dalam kitab Faidlul Qadir Juz 2 hal 431

اِنَّ اُمَّتىِ لاَتَجْتَمِعُ عَلىَ ضَلاَ لَةٍ فَاءِذَارَأَيْتُمُ اخْتِلاَ فًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِاْ لأَعْظَمِ.

“Sesungguhnya ummatku tidak berkumpul atas kesesatan maka apabila engkau melihat perselisihan, maka hendaknya engkau berpihak kepada golongan yang terbanyak”.

Al-Qiyas

Qiyas menurut bahasanya berarti mengukur, secara etimologi kata itu berasal dari kata Qasa (قا س ). Yang disebut Qiyas ialah menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukum karena adanya sebab yang antara keduanya. Rukun Qiyas ada 4 macam: al-ashlu, al-far’u, al-hukmu dan as-sabab. Contoh penggunaan qiyas, misalnya gandum, seperti disebutkan dalam suatu hadits sebagai yang pokok (al-ashlu)-nya, lalu al-far’u-nya adalah beras (tidak tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits), al-hukmu, atau hukum gandum itu wajib zakatnya, as-sabab atau alasan hukumnya karena makanan pokok.

Dengan demikian, hasil gandum itu wajib dikeluarkan zakatnya, sesuai dengan hadits Nabi, dan begitupun dengan beras, wajib dikeluarkan zakat. Meskipun, dalam hadits tidak dicantumkan nama beras. Tetapi, karena beras dan gandum itu kedua-duanya sebagai makanan pokok. Di sinilah aspek qiyas menjadi sumber hukum dalam syareat Islam. Dalam Al-Qur’an Allah S.WT. berfirman :

فَاعْتَبِرُوْا يأُوْلِى اْلأَيْصَارِ

“Ambilah ibarat (pelajaran dari kejadian itu) hai orang-orang yang mempunyai pandangan”. (Al-Hasyr : 2)

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ : لَمَا بَعَثَهُ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم اِلىَ اْليَمَنِى قَالَ: كَيْفَ تَقْضِى اِذَا عَرَضَ قَضَاءٌ ؟ قَالَ اَقْضِى بِكَتَابِ اللهِ قَالَ فَاءِنْ لَمْ تَجِدْ فِى كِتَابِ اللهِ ؟ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ, قَالَ فَاءِنْ لَمْ تَجِدْ فِى سُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ وَلاَ فىِ كِتَابِ اللهِ ؟ قَالَ اَجْتَهِدُ بِرَأْيِى وَلاَ الُوْ قَالَ فَضَرَبَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صَدْرَهُ وَقَالَ اْلحَمْدُ للهِ الَّذِى وَفَّقَ رَسُوْلَ رَسُوْلِ اللهِ لِمَا يَرْضَاهُ رَسُوْلُ اللهِ. رواه أحمد وابو داود والترمذى.

“Dari sahabat Mu’adz berkata; tatkala Rasulullah SAW mengutus ke Yaman, Rasulullah bersabda bagaimana engkau menentukan apabila tampak kepadamu suatu ketentuan? Mu’adz menjawab; saya akan menentukan hukum dengan kitab Allah? Mu’adz menjawab; dengan Sunnah Rasulullah s.aw. kemudian nabi bersabda; kalau tidak engkau jumpai dalam Sunnah Rasulullah dan dalam kitab Allah? Mu’adz menjawab; saya akan berijtihad dengan pendapat saya dan saya tidak kembali; Mu’adz berkata: maka Rasulullah memukul dadanya, kemudian Mu’adz berkata; Alhamdulillah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah SAW dengan apa yang Rasulullah meridlai-Nya.

Kemudian Al-Imam Syafi’i memperkuat pula tentang qiyas dengan firman Allah S.W.T dalam Al-Qur’an :

ياأَيُّهَااَّلذِيْنَ ءَ امَنُوْا لاَتَقْتُلُوْاا لصَّيْدَوَاَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَاعَدْلٍ مِنْكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang ihram, barang siapa diantara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak yang seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu”. (Al-Maidah: 95).

Sebagaimana madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah lebih mendahulukan dalil Al-Qur’an dan Al-Hadits dari pada akal. Maka dari itu madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah mempergunakan Ijma’ dan Qiyas kalau tidak mendapatkan dalil nash yang shareh (jelas) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.

3. Al Qur’an, Hadits dan Ijtihad.. Telah dijelaskan dalam sebuah hadits ketika ada sahabat nabi yang telah diutus untuk memimpin sebuah kota kemudian ditanya oleh Nabi SAW apa yang menjadi dasar untuk menentukan hukum, sahabat menjawab bahwa dia akan mencari didalam Al Qur’an jika tidak dia akan mencari dalam Hadits dan jika tidak ada didalam keduanya dia akan berijtihad dengan Al Qur’an dan Hadits

4. Macam-Macam Hukum Dalam Islam
1. Wajib (Fardlu)
Wajib adalah suatu perkara yang harus dilakukan oleh seorang muslima yang telah dewasa dan waras (mukallaf), di mana jika dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan akan mendapat dosa. Contoh : solat lima waktu, pergi haji (jika telah mampu), membayar zakat, dan lain-lain.

Wajib terdiri atas dua jenis/macam :
– Wajib ‘ain adalah suatu hal yang harus dilakukan oleh semua orang muslim mukalaf seperti sholah fardu, puasa ramadan, zakat, haji bila telah mampu dan lain-lain.
– Wajib Kifayah adalah perkara yang harus dilakukan oleh muslim mukallaff namun jika sudah ada yang malakukannya maka menjadi tidak wajib lagi bagi yang lain seperti mengurus jenazah.

2. Sunnah/Sunnat
Sunnat adalah suatu perkara yang bila dilakukan umat islam akan mendapat pahala dan jika tidak dilaksanakan tidak berdosa. Contoh : sholat sunnat, puasa senin kamis, solat tahajud, memelihara jenggot, dan lain sebagainya.
Sunah terbagi atas dua jenis/macam:
– Sunah Mu’akkad adalah sunnat yang sangat dianjurkan Nabi Muhammad SAW seperti shalat ied dan shalat tarawih.
– Sunat Ghairu Mu’akad yaitu adalah sunnah yang jarang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW seperti puasa senin kamis, dan lain-lain.

3. Haram
Haram adalah suatu perkara yang mana TIDAK BOLEH sama sekali dilakukan oleh umat muslim di mana pun mereka berada karena jika dilakukan akan mendapat dosa dan siksa di neraka kelak. Contohnya : main judi, minum minuman keras, zina, durhaka pada orang tua, riba, membunuh, fitnah, dan lain-lain.

4. Makruh
Makruh adalah suatu perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan akan tetapi jika dilakukan tidak berdosa dan jika ditinggalkan akan mendapat pahala dari Allah SWT. Contoh : posisi makan minum berdiri.

5. Mubah (Boleh)
Mubah adalah suatu perkara yang jika dikerjakan seorang muslim mukallaf tidak akan mendapat dosa dan tidak mendapat pahala. Contoh : makan dan minum, belanja, bercanda, melamun, dan lain sebagainya.

Pertemuan 2 Agama UL111I : Muhamad Royani : 1921424672

PERTANYAAN :

  1. Secara bahasa kata aqoda dapat dilihat dalam (QS:4:33, QS:5:89, QS:5:1, QS:2:235). Ketiga ayat pertama berkonotasi………..
  2. Ditinjau dari segi fungsinya istilah “aqidah” mengandung beberapa arti yakni ….
  3. Di dunia ini tidak ada manusia yang bebas, buktinya setiap manusia punya cita-cita/tujuan hidup, setiap manusia tidak mungkin hidup sebatang kara tanpa bantuan orang lain atau makhluq lain. Misalnya ……
    Arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah tauhid adalah ukhrawi sementara arah, tujuan dan cita2 hidup seorang yang beraqidah syirik adalah duniawi. Jelaskan
  4. Secara istilah aqidah berarti keyakinan atau keimanan. Istilah aqidah tidak terdapat dalam Al Qur’an, namun Al Qur’an menggunakan kata iman untuk menunjukan makna aqidah tersebut. Fungsi aqidah sebagai dasar/ikatan sama seperti halnya fungsi iman. Iman adalah sesuatu yang mengikat dan menjadi dasar pengendali kehidupan seorang (muslim). Iman menurut definisi para ulama adalah ……
  5. Jelaskan perbedaan tauhid rububiyah dan uluhiyah
  6. Seseorang beraqidah (tauhid Rububiyah) adalah ketika ia …….
  7. Lawanan dari sikap tauhid (aqidah tauhid) adalah

Status : tercapai 100%

Keterangan : saya sudah mengerjakan dengan baik

Bukti :

1. ikatan perjanjian (uqud, aqdul, aiman), baik janji terhadap Allah maupun antara sesama muslim.

2. kercayaan dan keyakinan

3. saya ingin mengejar cita cita saya dengan cara saya sekolah dan sekolahan itu mempunyai peraturan dan tata terbib yang saya harus jalankan dan mengerjakan tugas dari guru.

4.Akidah secara bahasa artinya ikatan. Sedangkan secara istilah akidah artinya keyakinan hati dan pembenarannya terhadap sesuatu. Dalam pengertian agama maka pengertian akidah adalah kandungan rukun iman, yaitu:

1.Beriman dengan Allah
2.Beriman dengan para malaikat
3.Beriman dengan kitab-kitab-Nya
4.Beriman dengan para Rasul-Nya
5.Beriman dengan hari akhir
6.Beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk
Sehingga akidah ini juga bisa diartikan dengan keimanan yang mantap tanpa disertai keraguan di dalam hati seseorang (lihat At Tauhid lis Shaffil Awwal Al ‘Aali hal. 9, Mujmal Ushul hal. 5

5.

Perbedaan antara Tauhid Rububiyah dengan Tauhid Uluhiyah dapat diringkas pada poin-poin berikut:

Perbedaan akar kata. Kata rububiyah diambil dari salah satu nama Allah, yaitu Rabb, sedang kata uluhiyah diambil dari akar kata Ilah.
Tauhid rububiyah terkait dengan masalah-masalah kauniyah (alam) seperti: menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan dan semacamnya. Sedang tauhid uluhiyah terkait dengan perintah dan larangan, seperti: wajib, haram, makruh dan lain-lain.
Kaum Musyrikin meyakini kebenaran tauhid rububiyah tetapi menolak mengakui tauhid uluhiyah. Ini dinyatakan Allah SWT dalam firman-Nya surat az-Zumar ayat 3:
أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُ‌ۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦۤ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِى مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِى مَنۡ هُوَ كَـٰذِبٌ۬ ڪَفَّارٌ۬ – ٣
Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Qs az-Zumar: 3)

. Substansi tauhid rububiyah bersifat ilmiah (pengetahuan) sedang substansi tauhid uluhiyah bersifat amaliah (aplikatif)

.Tauhid uluhiyah adalah konsekuensi pengakuan terhadap tauhid rububiyah. Maksudnya, tauhid uluhiyah itu berada di luar tauhid rububiyah, tetapi tauhid rububiyah tidak dianggap teraplikasi dengan benar kecuali bila ditidaklanjuti dengan tauhid uluhiyah. Dan bahwa tauhid uluhiyah sekaligus mengandung pengakuan atas tauhid rububiyah dalam artian bahwa tauhid rububiyah merupakan bagian dari tauhid uluhiyah.

.Tidak semua yang beriman pada tauhid rububiyah secara otomatis menjadi Muslim, tetapi semua yang beriman pada tauhid uluhiyah otomatis menjadi Muslim.

.Tauhid rububiyah adalah pengesaan Allah SWT dengan perbuatan-perbuatan-Nya sendiri, seperti mengesakan Dia sebagai Pencipta dan semacamnya. Sedang tauhid uluhiyah adalah pengesaan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, haji, cinta, benci, rasa harap, rasa takut, rasa cemas dan semacamnya. Karenanya tauhid uluhiyah sering pula disebut tauhid iradah dan thalab (kemauan dan permohonan). (Ibrahim Muhammad, Pengantar Studi Aqidah Islam hal: 152-160)

6. mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya.

7. Tauhid secara bahasa merupakan mashdar (kata benda dari kata kerja, ed) … wa sallam (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah li Syaikh Shalih Alu Syaikh 63). … sesuatu yang semisal dengan Allah dalam nama dan sifat-Nya.

Pertemuan 1 Agama UL111I : Muhamad Royani : 1921424672

1. pertanyaan

  1. Jelaskan spengertian Agama secara etimologi dan terminologi.
  2. Sebutkan alasan secara umum mengapa manusia menganut suatu agama.
  3. Apa peran agama dalam membangun peradaban dan ilmu pengetahuan,

2.Status

Tercapai 100%

3. Keterangan

Saya sudah mengerjakan tugas ini dengan baik dan benar

4.Bukti

JAWABAN 1

  • Secara etimologi

dalam masyarakat indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata “din” dari bahasa arab dan kata religi dalam bahasa eropa. Ia mengatakan bahwa agama dari bahasa sanskerta tersusun dari 2 kata yaitu a=tidak dan gam =pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun temurun. Hal menunjukkan pada salah satu sifat agama yaitu diwarisi secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Kemudian ada yang mengatakan artinya adalah teks dan kitab suci, tuntunan yang  berarti tuntunan bagi kehidupan manusia.

 

  • Secara terminologi

Elizabet  nottingham dalam bukunya agama dan masyarakat berpendapat bahwa agama adalah gejala yang begitu sering terdapat dimana mana sehingga sedikit membantu usaha usaha kita untuk membuat abstraksi ilmiah. Lebih lanjut Nottingham mengatakan bahwa agama berkaitan dengan usaha usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaannya sendiri dan keberadaaan alam semesta. Agama telah menimbulkan Khayalnya yang paling luas dan juga digunakan untuk membenarkan kekejaman orang yang luar biasa terhadap orang lain. Agama dapat membangkitkan kebahagiaan batin yang paling sempurna dan juga perasaan takut dan ngeri. Dan durkheim mangatakan bahwa agama adalah pantulan dari solidaritas sosial. Bahkan kalau dikaji, katanya, tuhan itu sebenarnya adalah ciptaan masyarakat.

 

JAWABAN 2

    • Dengan beragama manusia mengetahui dengan pasti untuk apa ia hidup.
    • Dengan beragama manusia punya panutan dalam menjalani hidup.
    • Dengan beragama manusia mempunyai tempat berkeluh kesah disaat mempunyai masalah.
    • Dengan bergama manusia tidak hidup seenaknya. Karena dalam agama terdapat banyak sekali aturan2 yg harus dipatuhi

 

JAWABAN 3

    • Peran agama dalam membangun peradaban adalah hal yang tidak bisa terpisahkan karena manusia itu memiliki cipta, rasa dan karsa. Cipta, rasa dan karsa itu akan menimbulkan perkembangan pengetahuan yang berasal dari suatu budaya. Agama adalah bagian dari kebudayaan, yang dalam hal ini kebudayaan bearati mencangkup agama. Peradaban berkata dengan konsep nilai moral, etika, estetika di masyarakat dipakai untuk menyebut bagian-bagian dan unsur-unsur dari kebudayaan yang halus dan indah.
    • Peran agama dalam membangun ilmu pengetahuan adalah bahwa agama dan ilmu pengetahuan memiliki korelasi yang sangat erat dan tidak mungkin dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya saling menjalankan perannya secara sinergi dan berkesinambungan.

Tugas pertemuan #3 muhammad taufan

Pertanyaan :

  1. Apa saja yang termasuk sumber pokok hukum Islam, sebutkan dan jelaskan
  2. Sebutkan 4 sumber hukum Islam yang disepakati.
  3. Sebutkan dan jelaskan minimal 3 hukum islam yang tidak disepakati
  4. Sebutkan 6 macam hukum Islam, dan jelaskan satu demi satu

Status: 100%

Keterangan: Sudah selesai

Bukti:

  1. Al – Qur’an adalah kalam Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui malaikat Jibril, sebagai mukjizat dan sumber hukum serta sebagai pedoman hidup bagi pemeluk Islam, membacanya bernilai ibadah kepada Allah.
    B. As-Sunnah(Hadits) menurut bahasa artinya perjalanan, pekerjaan atau cara. Sedangkan sunah menurut istilah syara’  ialah perkataan Nabi Muhammad saw., perbuatannya dan keterangannya yaitu sesuatu yang dikatakan atau diperbuat oleh sahabat dan ditetapkan oleh nabi, serta nabi tidak menegurnya. Hal ini sebagai bukti bahwa perbuatan tersebut hukumnya tidak melanggar
  2. Al-Qur’an, Sunnah (Hadits), Ijma’ dan Qiyas
  3. Istihsan adalah kecenderungan seseorang pada sesuatu karena menganggapnya lebih baik, dan ini bisa bersifat lahiriah (hissiy) ataupun maknawiah
    B. Istishab menurut Imam Asy-Syaukani ialah tetap berlakunya suatu keadaan selama belum ada yang mengubahnya.
    C. Urf merupakan istilah Islam yang dimaknai dengan adat kebiasaan. ‘Urf terbagi menjadi Ucapan atau Perbuatan dilihat dari segi objeknya, menjadi Umum atau Khusus dari segi cakupannya, menjadi Sah atau Rusak dari segi keabsahan menurut syariat. Para ulama ushul fiqih bersepakat bahwa Adat (‘urf) yang sah ialah yang tidak bertentangan dengan syari’at
  4. Wajib atau Fardhu merupakan status hukum yang harus dilakukan oleh mereka yang memenuhi syarat-syarat wajibnya. Syarat wajib yang dimaksud adalah orang yang sudah mukallaf, yaitu seorang muslim yang sudah dewasa dan berakal sehat. Jika kita mengerjakan perkara yang wajib maka akan mendapat pahala. Namun bila ditinggalkan maka akan mendapat dosa.
    B. Sunnah adalah perkara yang dianjurkan bagi umat Islam. Artinya, jika dikerjakan maka akan mendapatkan pahala, namun jika tidak dikerjakan menyebabkan kerugian.
    C. Haram adalah suatu hal yang dilarang dan tidak boleh dilakukan oleh umat Islam. Haram termasuk status hukum dimana sebuah perkara tidak boleh dikerjakan. Jika dilakukan maka akan mendapat dosa.
    D. Makruh adalah suatu perkara yang dianjurkan untuk tidak dilakukan. Jika tidak dilakukan tidak berdosa namun jika ditinggalkan akan mendapat pahala.
    E. Mubah artinya boleh. Dalam islam mubah merupakan sebuah hukum dimana seorang muslim boleh mengerjakan suatu perkara, tanpa mendapat pahala ataupun dosa.

Tugas pertemuan #4 muhammad taufan

Pertanyaan :

  1. Jelaskan makna Thaharah, Shaum, Shalat,Haji dan Umrah!
  2. Tunjukan dalil-dalil Al-Qur’an maupun hadits tentang Thaharah, Shaum, Shalat,Haji dan Umrah!
  3. sebutkan hukum macam-macam air yang boleh digunakan untuk bersuci dan tidak boleh di gunakan untuk bersuci!
  4. Sebutkan 7 jenis air yang dapat di gunakan untuk bersuci!
  5. Sebutkan macam-macam najis dan bagaimana cara membersihkannya!
  6. Jelaskan arti shalat dan dalilnya!
  7. Jelaskan tentang syarat dan rukun shalat!
  8. Sebutkan macam-macam (nama-nama) shalat sunah!
  9. Apa Arti Puasa (Shaum) dan sebutksan dalil  tentang puasa?
  10. Sebutkan macam-macam puasa wajib dan puasa sunah!

Status : 100%

keterangan : sudah selesai

bukti :

  1. -Secara bahasa Thaharah artinya membersihkan kotoran, baik kotoran yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Secara istilah Thaharah artinya menghilangkan hadas, najis, dan kotoran (dari tubuh, yang menyebabkan tidak sahnya ibadah) menggunakan air atau tanah yang bersih dan suci
    -Saum ialah menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim
    -Shalat secara bahasa bermakna doa, sedangkan secara istilah bermakna, “ibadah yang berisikan rangkaian gerakan dan doa, diawali dengan takbir, dan diakhiri dengan salam” .
    -Haji adalah perjalanan menuju rumah Allah (Baitullah) yang suci untuk melaksanakan ritual ibadah yang terdiri dari perbuatan dan perkataan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dilaksanakan pada Bulan Haji (Dzulhijjah)
    -Umrah adalah salah satu kegiatan ibadah dalam agama Islam Hampir mirip dengan ibadah haji, ibadah ini dilaksanakan dengan cara melakukan beberapa ritual ibadah di kota suci Mekkah, khususnya di Masjidil Haram.
  2. -Dalil dalil Thaharah
    Q.S Al-Baqorah ayat 222:Dalil Hadits-Dalil dalil Shaum
    Q.S Al-Baqarah ayat 183
    Dalil Hadits Riwayat Al-Bukhari

    -Dalil dalil Shalat
    Q.S

    Dalil Hadits

    -Dalil dalil Haji
    Q.S

    Dalil Hadits

    -Dalil dalil Umrah
    Q.S

    Dalil Hadits

  3. – Air Muthlaq
    -Air Musta’mal
    -Air yang bercampur benda suci
    -Air Mutanajis
    -Air Su’r
  4. -Air Embun
    -Air Salju
    -Air dari Mata Air
    -Air Laut
    -Air Sungai
    -Air Hujan
    -Air Telaga
  5. -Najis Mukhafafah cara membersihkannya cukup dipercikan air di bagian yang terkena najis, meskipun bekas najis masih melekat
    -Najis Mutawassithah cara membersihkannya dengan cara membasuhnya dengan air mengalir, sampai Wujud, Aromanya menghilang
    -Najis Mughallazhah cara membersihkannya dengan dicuci sebanyak 7 kali dengan air mengalir yang salah satunya dicampur dengan tanah
  6. Shalat
  7. Syarat Shalat
    Rukun Shalat
  8. Nama nama shalat Sunnah
    -Sunnah Qabliyah
    -Sunnah Ba’diyah
    -Sunnah Tahiatul Masjid
    -Dhuha
    -Witir
    -Tahajud
    -Rawatib
    -Istikharah
    -Hajat
    -Mutlaq
    -Taubat
    -Tasbih
    -Tarawih
    -I’d
    -Khusuf
    -Istiqa
  9. Arti Puasa (Shaum) adalah Menahan
    Dalil Puasa

  10. Puasa Wajib
    -Puasa Ramadhan
    Puasa Sunnah
    -Puasa Senin Kamis
    -Puasa Nabi Dawud
    -Puasa Syawal
    -Puasa Arafah
    -Puasa Muharram
    -Puasa Ayyamul Bidh
    -Puasa Sya’ban